Ketua PW Ansor Jateng Sampaikan Tausiyah pada Darusan Umum Pengajian Pitulasan Menara Kudus, Ini Isinya
KUDUS, ansorkudus.or.id – Darusan Umum Pengajian Pitulasan Rabu malam (2/3) yang bertepatan dengan Haul KHR Ahmad Kamal Hambal ke-83 dan KHM Sya’roni Ahmadi ke-5 di Gedung Menara Kudus berlangsung hikmat dan sarat makna.
Gus Shidqon, Ketua PW Ansor Jawa Tengah yang didapuk menjadi pemateri pada malam itu menerangkan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan segala sesuatu yang buruk.
“Puasa itu menahan barang yang jelek. Bukan hanya makan dan minum, tapi juga menahan lisan, amarah, hawa nafsu, dan perbuatan yang tidak baik,” tuturnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa manusia adalah produk terakhir ciptaan Allah yang paling sempurna. Dalam diri manusia terdapat tiga unsur utama. Pertama unsur malaikat, yaitu sifat yang mendorong manusia untuk berbuat baik, menyenangkan orang lain, dan taat kepada Allah.
Kedua unsur setan, yaitu sifat yang suka mengganggu, menyesatkan, serta mendorong pada keburukan dan yang terakhir Unsur hewan, yang terbagi menjadi dua kecenderungan: ada yang hanya mengikuti syahwat seperti makan dan kesenangan duniawi, dan ada pula yang mampu mengendalikan diri dengan tirakat dan latihan spiritual.
“Kalau puasanya benar, maka unsur malaikatnya yang menang. Tapi kalau tidak mampu menahan diri, unsur setan dan hewannya yang dominan,” jelasnya.
Selain membahas makna puasa, Gus Shidqon juga mengingatkan jamaah tentang tema “lupa” dalam kehidupan manusia. Ia menyebutkan beberapa jenis lupa yang sering terjadi.
Pertama, ghaflah (غفلة), yaitu lalai atau lengah, lupa kepada tujuan hidup, lupa kepada Allah dan akhirat karena terlalu sibuk dengan gemerlap dunia. “Kita sering memperhatikan yang tidak penting, tapi melupakan yang penting,” pesannya.
Kedua, zuhul, yakni lupa karena situasi yang mencekam atau genting sehingga pikiran menjadi terguncang. Ketiga, nisyan, yaitu lupa secara alami sebagai bagian dari sifat dasar manusia. Keempat, sahwun, yakni lupa dalam konteks ibadah, seperti lupa dalam shalat. Kelima, syumud, yaitu lupa karena terlalu larut dalam hiburan dan kesenangan sehingga melalaikan kewajiban.
Melalui penjelasan tersebut, Gus Shidqon mengajak jamaah untuk menjadikan puasa sebagai momentum membersihkan diri dari kelalaian dan menguatkan unsur kebaikan dalam diri.
“Jangan sampai kita menjadi manusia yang sempurna secara penciptaan, tapi kalah oleh hawa nafsu dan kelalaian,” pungkasnya.
Para tokoh agama, santri, serta masyarakat umum yang hadir dalam acara antusias mengikuti rangkaian Darusan Umum dan Haul Masyayih tersebut. (-)
Kontributor : H'izul Ansorku TV
Editor : Gunawan TB

Gabung dalam percakapan